Tekan Inflasi Suku Bunga BI Naik 7 %

Gubernur Bank Indonesia, Agus MartowardojoGubernur Bank Indonesia, Agus Martowardojo - Sumber: Google

 

margind.com- Jakarta. Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 50 bps ke level 7 %. Kebijakan ini untuk mengantisipasi inflasi, nilai tukar rupiah, dan defisit transaksi berjalan. Keputusan itu merupakan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan dalam melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi makro ekonomi, moneter, dan sistem keuangan.

“Dalam beberapa waktu belakangan ini, ekonomi Indonesia mengalami tekanan dengan intensitas yang tinggi, seiring dengan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global serta masih tingginya ekspektasi inflasi dan persepsi terhadap kesinambungan transaksi berjalan,” demikian keterangan pers Gubernur BI, Agus Martowardojo, di Jakarta, Kamis (29/08). 

Sebab itu, Dewan Gubernur menilai bahwa proses penyesuaian perekonomian nasional terhadap perlambatan ekonomi terindikasi mulai berlangsung. Hal ini tidak terlepas dari bauran kebijakan moneter dan makro prudensial yang ditempuh Bank Indonesia selama ini. Atau pun, langkah-langkah koordinasi kebijakan, baik dengan pemerintah maupun dalam Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK). 

Dikatakan Agus, tekanan dan ketidakpastian perekonomian global ke depan masih relatif tinggi, baik terkait dengan waktu dan besarnya peruncingan stimulus moneter The Fed, penurunan harga komoditas, maupun perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. 

“Inilah alasan kami memutuskan untuk menempuh langkah-langkah lanjutan demi memperkuat bauran kebijakan moneter dan makro prudensial dalam pengendalian inflasi, stabilisasi nilai tukar rupiah, penurunan defisit transaksi berjalan, serta penguatan ketahanan makroekonomi dan stabilisasi sistem keuangan,” kata Agus. 

Selain menaikkan BI Rate, BI juga menaikkan suku bunga fasilitas peminjaman sebesar 25 bps menjadi 7,00 %, dan suku bunga fasilitas deposit sebesar 50 bps menjadi 5,25 %.  Kenaikan BI Rate itu  diharapkan dapat lebih memperkuat pengendalian ekspektasi inflasi dan memitigasi risiko kemungkinan terjadinya pengaruh pelemahan rupiah terhadap inflasi dan sebaliknya.

 

“Kebijakan ini juga sebagai bagian dari langkah untuk menekan defisit transaksi berjalan menuju tingkat yang sehat dan berkesinambungan,” pungkas Agus Martowardojo. redaksi@margind.com

Top