Kisruh Permen ESDM 7/2012

ilustrasiilustrasi - Sumber: Google

margind.com- Jakarta. Putusan Mahkamah Agung (MA) terkait gugatan Asosiasi Nikel Indonesia (ANI), ternyata menjadi tanya tanya Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi. Menurutnya,  pihaknya masih akan mencoba mengklarifikasi ke pihak Kementerian ESDM terlebih dahulu sebelum menerapkan kemungkinan yang terjadi mengenai ekspor tambang mentah.

Bayu melihat,  Peraturan Menteri Perdagangan tentang pembatasan ekspor bahan baku mineral, tentunya mengacu kepada ketentuan Permen ESDM  dan permen tersebut, terkait dengan Undang-undang. “Sepanjang Permendag-nya belum diubah, ketentuan ekspor bahan baku mineral masih sama,” tegas Bayu kepada wartawan, di  Jakarta, Selasa (6/11).

Menurut Bayu, jika Permen ESDM tentang hilirisasi tersebut dicabut, tetap saja pengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi pun juga tidak signifikan. “Ekspor mineral selama ini terhadap total ekspor hanya 20,4% saja, sedangkan ekspor nonmigas mampu mencapai 65-70% terhadap total ekspor,” jelasnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, mengatakan, pencabutan Permen ESDM Nomor 7 Tahun 2012, tentunya  akan melanggar UU Minerba tahun 2009. “Jika dibatalkan berarti kita melanggar Undang-Undang yang menjelaskan tidak boleh diekspor kecuali diproses di dalam negeri,” kata Hatta.

Di tempat terpisah, Menteri ESDM Jero Wacik menegaskan, Permen ESDM No.7 Tahun 2012 tetap berlaku, meskipun pengusaha mengklaim permen ini telah dibatalkan oleh MA. “Kami belum mendapat laporan tentang hal tersebut.  Jadi aturan ini masih terus kami jalankan dan berlaku,” katanya.

Menurutnya, permen ini memang banyak yang menentang baik dari pengusaha dalam maupun luar negeri. “Misalnya pengusaha Jepang sebagai pembeli bijih mineral, mereka meminta permen dicabut karena bisa merusak bisnis mereka,” ujarnya.

Padahal, kata Wacik, larangan ekspor bertujuan agar mineral yang diekspor memiliki nilai tambah. Hal ini, bukan berarti aktivitas menambang para pengusaha itu berhenti, tapi pembangunan fasilitas pengolahan di dalam negeri, bisa menciptakan banyak lapangan kerja baru. “Jadi yang kita inginkan yang dieskpor benar-benar semi finis ataufinish produk,” tegas Wacik. redaksi@margind.com

Baca juga

Top